Minggu, 22 Desember 2013

MEREK / BRAND


BAB I
PENDAHULUAN

        Pelopor merek yang pertama di Amerika Serikat adalah para peramu obat paten, tetapi perkembangan sesungguhnya baru terjadi sesudah perang saudara dengan bertumbuhnya perusahaan-perusahaan nasional dan media iklan nasional. Beberapa merek pada zaman itu masih mampu bertahan sampai saat ini seperti; Borden’s Condensed Milk, Quaker Oats, Vaseline, dan Lvory Soap. 
       Merek atau merek dagang adalah nama atau simbol yang diasosiasikandengan produk atau jasa dan menimbulkan arti sikologis atau asosiasi. Merek juga bisa diartikan sebuah tanda yang dapatr membedakan barang dan jasa yang diproduksi dan dimiliki oleh suatu perusahaan terhadap perusahaan lainnyaKata, huruf, angka, gambar, photo, bentuk, warna, jenis logo, label atau gabungannya yang dapat digunakan unruk membedakan barang dan jasa dapat dianggap sebagai sebuah merek. disebagian negara, slogan iklan juga dianggap sebagai merek dan dapat di daftarkan pada kantor HKI. Jumlah negara yang membuka kemungkinan untuk pendaftaran bentuk-bentuk merek yang kurang biasa di daftarkan seperti warna tunggal, tanda tiga dimensi (bentuk produk atau kemasan), tanda-tanda yang dapat di dengar (bunyi) atau tanda olfactory (bau). Namun demikian, sebagian besar negara telah menentukan batasan-batasan mengenai hal apa saja yang dapat di daftarkan sebagai sebuah merek, secara umum adalah untuk tanda-tanda yang memang secara visual dapat dirasakan atau yang dapat ditunjukkan dengan gambar atau tulisan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    LANDASARN TEORI
Merek adalah sebuah nama , istilah, simbol tanda atau desain, atau kombinasi dari semua yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari seorang penjual dan untuk membedakan dari produk atau jasa pesaing. Merek yang kuat ditandai dengan dikenalnya suatu merek dalam masyarakat,asosiasi merek yang tinggi pada suatu produk, persepsi positif dari pasar dan kesetiaan konsumen terhadap merek yang tingii.
Dengan adanya merek yang membuat produk yang satu beda dengan yang lain diharapkan akan memudahkan konsumen  dalam menentukan produk yang akan dikonsumsinya berdasarkan berbagai pertimbangan serta menimbulkan kesetiaan terhadap suatu merek (brand loyality). Kesetiaan konsumen terhadap suatu merek atau brand yaitu dari pengenalan, pilihan dan kepatuhan pada suatu merek.
Kekayaan merek,  merek yang sangat kuat memiliki  kekayaan merek yang tinggi. Sutu merek dikatakan  memiliki kekayaan merek yang tinggi sejauh mereka memiliki kesetian merek yang tinggi, kesadaran nama, persepsi mutu, asosiasi merek yang kuat. Merek-merek puncak dunia misalnya, coca cola, kodak, sony, Mercedez Benz, sedangkan merek-merek ternama di indonesia misalnya, Aqua, Indomie, Pepsodent, Rinso. Perusahaan perlu mengelola merek secara hati-hati untuk melindungi kekayaan merek, serta mengembangkan strategi untuk mempertahankan atau meningkatkan kesadaran merek.
Pertama-tama perusahaan harus memutuskan apakah mereka apakah mereka harus memberi sebuah nama marek pada sebuah produknya, begitu kuatnya pemberian marek sehingga sangat susah menemukan barang  yang tidak bermarek, misalnya garam yang dikemas kemidian biberi merek, suku cadang mobil seperti ban dan busi, bahkan buah-buahan yang dibungkus kemidian dberi merek, serta sayur-sayuran.
Pemberikan nama merek memberikan banyak keuntungan, antara lain: merek menunjukkan mutu produk, mengingatkan efisiensi orang yang berbelanja, menarik perhatian konsumen terhadap produk-produk baru, memudahkan penjualan, mengelola pesanan, dan dapat menmbah nilai bagi konsumen masyarakat.
Pada dasarnya suatu merek juga merupakan janji penjual untuk secara konsisten menyampaikan secara ciri-ciri, manfaat dan jasa tertentu kepada para pembeli. Merek yang baik juga menyempaikan jaminan  tambahan berupa jaminan kualitas. Merek sendiri digunakan untuk beberapa tujuan yaitu :
1.     Sebagai identitas, yang bermanfaat dalam diferensiasi atau memebedakan produk suatu perusahaan dengan produk perusahaan saingannya. Ini akan memudahkan konsumen untuk mengenalinya saat berbelanja dan saat melakukan pembelian ulang.
2.     Alat promosi, yaitu sebagai daya tarik produk.
3.  Untuk membina citra yaitu dengan memeberikan keyakinan, jaminan kualitas, serta prestise tertentu kepada konsumen.
4.     Untuk mengendalikan pasar.

Jenis-jenis Merek
·       Merek Dagang
Merek Dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan barang-barang sejenis lainnya,
·       Merek  Jasa
Merek jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa sejenis lainnya.

Merek dapat dipahami lebih dalam pada tiga hal sebagai beriku :
a.     Contoh brand name (nama) : aqua, bata, rinso, KFC, acer, windows, toyota dan lain sebagainya
b.  Contoh mark (simbol) : gambar atau simbol sayap pada motor honda, gambar jendela pada windows, simbol bulatan hijau pada sony ericsoon dan sebagainya
c.    Contoh trade character (karakter dagang) : ronald mc donald pada restoran mc donalds, si domar pada indomaret, burung dan kucing pada produk makanan gerydan lain sebagainya.
Berikut ini ada beberapa keputusan-keputusan tentang merek, yaitu;
·         Keputusan Mengenai Merek.
Keputusan yang harus diambil ialah perlu tidaknya satu merek tertentu bagi suatu produk. Bila dilihat dari sejarahnya, kebanyakan produk dipasarkan tanpa merek sama sekali,. Baik produsen maupun para perantara menjual barang-barang mereka langsung saja dengan satuan kilo gram, liter, kotak dan sebagainya, tanpa suatu tanda pengenal dari pembekal. Sekarang ini pemeberian merek sudah demikian meluasnya sehingga barang yang dipasarkan tanpa merek sering menghadapi kesulitan besar. Suku cadang kendaraan bermotor memiliki merek produsennya, mur dan baut diberi merek pembuat atau distributornya, jeruk atau jagung di supermarket dibungkus dengan kemasan bermerek.Selain tiu, terdapat bukti bahwa para distributor menginginkan adanya merek sebagai cara untuk memudahkan penanganan produk, mengidentifikasai pembekal, meminta produk agar bertahan pada standart mutu tertentu dan juga meningkatkan pilihan para pembeli. Di pihak konsumen, mereka menginginkan di cantumkannya merek untuk mempermudah mengenali perbedaan mutu serta agar dapat berbelanja dengan lebih efisien.

·         Keputusan Penyediaan Merek
Dalam memutuskan pencantuman merek pada suatu produk, seorang mempunyai beberapa pilihan mengenai pihak mana yang sebaiknya memberi merek. Ada kemungkinan produk dipasarkan dengan merek produsen, atau dipasarkan oleh produsen dengan merek lisensi.  Atau produk yang dipasarkan ke pedagang perantara kemudian memeberi merek sendiri, yang sering juga disebut dengan merek perantara, merek distributor  atau merek penyalur. Selain itu bisa juga produsen memproduksi sebagian produk dengan merek pabrik dan sebagian lagi dengan merek sendiri

·         Keputusan Merek Kelompok (Family-brand decision) .
Memeberi merek yang sama paada beberapa produk dengan alasan mendompleng merek yang sudah ada dan dikenal masyarakat. Contoh dari family branding yakni; merek gery yang merupakan grup dari garudafood yang mengeluarkan banyak produk berbeda dengan merek utama gery seperti gery salut, gery coklut, gery toya-toya dan lain sebagainya.

·         Keputusan Meluaskan Merek
Strategi memperluas merek adalah upaya meluaskan nama merek yang telah terbukti berhasil guna meluncurkan produk atau lini produk yang baru atau yang merupakan hasil produk atau lini produk yang baru atau yang merupakan hasil modifikasi

·         Keputusan Merek  Ganda
Dalam strategi merek ganda ini, penjual membuat dua atau lebih merek dalam kategori/ kelompok produk yang sama. Ada beberapa alasan mengapa banyak perusahaan menerapkan strategi merek ganda ini. Alsan pertama, perusahaan akan memperoleh ruang/rak yang lbh banyak di toko/supermarket, dengan demikian akan meningkatkan ketergantungan pengecer pada merek-mereknya. Kedua karena sedikitnya jumlah konsumen yang suka berpindah-pindah merek ialah dengan menyediakan banyak merek. Ketiga, menambah merek baru akan meningkatkan gairah, semangat serta efisiensi di dalam tbuh perusahaan sendiri.

·         Keputusan Penempatan Kembali Merek
Bahwa bagaimanapun baiknya penempatan  (posisi) merek tertentu di pasar, perusahaan aharus meninjau di kemudian hari, sebab  mungkin saja pesaing memasarkan merek baru yang mirip dengan merek perusahaan sehingga pangasa pasar berkurang. Atau konsumen mulai beralih ke merek lain, sehingga jumlah permintaan untuk merek milik perusahaan menyusut

·         Keputusan Kaemasan dan L ebel
Kemasan dalam pemasaran suatu produk, pemberian wadah atau kemasan dapat memainkan peran yang kecil atau peran yang penting . saat ini banyak kalangna orang pemasaran yang menganggap masalah kemasan sebagai faktoP ke lima sesudah price, product, place, dan promotion. Akan tetapi, kebanyakan orang pemasaran memperlakukan masalah kemasan sebagai salah satu elemen dari stategi produk.  Yang terakhir adalah lebel  yang meru[pakan bagian dari pengemasan danterdiri dari keterangan tercetak dam menjelaskan sesuatu mengenai produk Lebel mungkin hanya berisi nama merek atau bisa juga informasi lengkap.

      Hal –hal yang harus diperhatikan dalam mendaftaran merek yakni :
1.      Pendaftaran Merek
                  Yang dapat mengajukan pendaftaran merek adalah
·         Orang (person)
·         Badan Hukum (recht person)
·         Beberapa orang atau Badan Hukum (pemilikan bersama)

2.      Fungsi Pendaftaran Merek
·      Sebagai  alat bukti bagi pemilik yang berhak atas merek yang didaftarkan
·      Sebagai dasar penolakan terhadap merek yang sama keseluruhan atau sama pada pokok nya yang dimohonkan pendaftaran oleh orang lain untuk barang atau jsa sejenis.
·     Sebagai dasar untuk mencegah orang lain memakai merek yang sama keseluruhan atau sama pada pokoknya dalam peredaran yntuk barang atau jasa sejenisnya.

3.      Persyaratan Permohonan Merek
1.      Mengajukan permohonan ke DJ HKI/Kanwil secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan melampirkan :
·    Foto copy KTP yang dilegasirkan. Bagi pemohon yang berasal dari luar negeri sesuai dengan ketentuan undang-undang harus memilih tempat kedudukan di Indonesia, biasanya dipilih pada alamat kuasa hukumnya;
·    Foto copy akte pendirian badan hukum yang telah disahkanoleh notaris apabila permohonan diajukan atas nama badan hukum;
·    Foto copy peraturan pemilikan bersama apabila permohonan  diajukan atas nama lebih dari satu orang
·      Surat kuasa khusus apabila permohonan permohonan dikuasakan;
·      Tanda pembayaranm biaya permohonan;
·      25 helai etiket merek (ukuran max 9x9 cm, min. 2x2 cm);
·      Surat pembayaran bahwa merek yang diminta pendaftaran adalah miliknya.

2.      Mengisi formulir permohonan yang memuat :
·      Tanggal, bualan, dan tahun surat permohonan;
·      Nama, alamat lengkap dan kewarganegaraan permohonan
·      Nama dan alamat lengkap kuasa apabila permohonan diajukan melalui kuasa; dan;
·  Nama negara dan tanggal penerimaan permohonan yang pertma kali dalam hal permohonan diajukan dengan hak prioritas
3.       Membayar biaya permohonan pendaftaran pendaftaran merek.

Hal-hal yang Menyebabkan Suatu Merek Tidak Dapat di Daftarkan
a.      Didaftarkan oleh pemohon yang tidak beritikad baik.
b.   Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas keagamaan, kesusilaan, atau ketertiban umum .
c.    Tidak memiliki daya pembeda
d.    Telah menjadi milik umum
e.    Merupakan keterangan atau berkaitan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya. (Pasal 4 dan Pasal 5 UU Merek).




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

       Merek yang kuat ditandai dengan dikenalnya suatu merek dalam masyarakat,asosiasi merek yang tinggi pada suatu produk, persepsi positif dari pasar dan kesetiaan konsumen terhadap merek yang tingi.
      Jadi dengan adanya merek yang membuat produk yang satu beda dengan yang lain diharapkan akan memudahkan konsumen  dalam menentukan produk yang akan dikonsumsinya berdasarkan berbagai pertimbangan serta menimbulkan kesetiaan terhadap suatu merek (brand loyality). Kesetiaan konsumen terhadap suatu merek atau brand yaitu dari pengenalan, pilihan dan kepatuhan pada suatu merek.

RISK MANAGEMENT (Manajemen Proyek)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan
1.1 .1 Presentasi tentang proyek
          Sebelum mengerjakan suatu proyek, kita juga harus melakukan yang namanya presentasi tentang proyek itu sendiri.Hal ini dilakukan supaya apabila nantinya ada sesuatu yang mungkin kurang tepat dalam penyampaiannya dapat dilakukan pembenahan kembali. Presentasi proyek yang akan dijalankan sebaiknya melibatkan banyak pihak karena melalui presentasi ini banyak pendapat-pendapat yang dapat membantu menyempurnakan proyek kita. Dalam presentasi ini juga kita dapat mempromsikan proyek kita sehingga pihak-pihak yang menjadi audiens merasa yakin dan dapat membantu mengerjakan proyek ini menjadi lebih baik.Dan pendapat-pendapat mereka inilah yang nantinya dapat menjadi tolak ukur keberhasilan dalam perencanaan proyek kita.
Dalam penyampaian presentasi harus diperhatikan etika penulisan yang benar karena untuk menyakinkan pihak-pihak yang ikut dalam presentasi ini.Apabila dalam penyampaiannya sudah tidak beretika atau kurang sopan maka yang menjadi audienpun menjadi tidak bersemangat.Yang menjadi moderatorpun juga demikian karenayang dilihat bukan hanya penyampaiannya tetapi juga etika dalam penyampaiannya.

1.1.2 Wawancara dengan pihak terkait
  Selain melalui presentasi, informasi juga dapat diperoleh lewat wawancara langsung dengan pihak-pihak terkait. Dalam suatu wawancara harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
·         Tujuan wawancara harus jelas (Purposes);
·         Buat daftar hal-hal yang ingin ditanyakan dan berhubungan langsung dengan proyek (Enumerating activities);
·         Harapan dari pemakai akhir (Work methods and Interconnections among users);
·         Harapan dari pemberi order (Performance issues);
·         Punya pandangan yang lebih jauh melebihi yang diwawancara.

Sebuah wawancara harus memiliki tujuan.Apa yang hendak dicapai harus jelas. Setelah tahu apa yang hendak dicapai, pewawancara harus membuat daftar pertanyaan sebagai arahan pada saat mewawancarai. Tidak boleh dilupakan dalam wawancara, harus juga dilibatkan bagaimana sebenarnya produk dari proyek akan dihasilkan. Apa implikasinya terhadap pengguna dan perusahaan, dan bagaimana akan diperoleh hasil terbaik. Lebih jauh dari ini semua, seorang pewawancara harus memiliki pandangan yang jauh, sehingga tidak kehilangan arah pertanyaan dan didikte oleh lawan bicaranya pada saat wawancara.


BAB II
PEMBAHASAN

Seorang manajer proyek, seperti telah disinggung dalam bab terdahulu, memiliki tugas untuk mencari keseimbangan antara teknologi, konsep, biaya, dan waktu dalam penyelesaian proyek. Peran ini dapat dipenuhi secara efektif apabila dia mampu untuk:

o   Berperan sebagai manajer yang berpengertian (ikuti langkah-langkah positif manajer sebelumnya);

o   Mendelegasikan tugas bila diperlukan;
o   Komunikasi antara atasan dan bawahan;
o   Mengingat peran serta client atau pemakai akhir;
o   Memfokuskan diri pada hasil akhir sesuai tujuan.

Apabila hal ini dapat dipenuhi maka proyek akan berjalan sesuai dengan rencana awal dan berhasil dengan baik.

2.2 Contingency Plan
Kadangkala dalam proses penyelesaian proyek dibutuhkan juga suatu backup-plan (contingency plan atau rencana darurat) apabila ternyata terjadi hal-hal di luar dugaan.

Dengan rencana darurat ini proyek tetap dapat diselesaikan pada waktunya dan dalam batasan biaya yang telah direncanakan.Rencana darurat ini dapat juga dikatakan sebagai alternatif pemecahan masalah dan juga harus mendapat persetujuan dari pihak pemberi order.Contingency plan dapat disusun bersamaan dengan riset yang dilakukan atau dapat dikatakan pula, contingency plan merupakan rencana alternatif yang diperoleh dari hasil riset.

Ada baiknya pula rencana darurat disusun sebelum bertemu dengan tim manajemen atau pemberi order. Hal ini dikarenakan, mereka sering bertanya hal-hal mendasar karena takut investasinya merugi.


Menurut Djojosoerdarso (2005), manajemen risiko adalah pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam penanggulangan risiko, terutama risiko yang dihadapi oleh organisasi/perusahaan, keluarga dan masyarakat. Jadi mencakup kegiatan merencanakan, mengorganisir, menyusun, dan memimpin, dan mengawasi (termasuk mengevaluasi) program penanggulangan risiko.
Jadi manajemen risiko adalah suatu proses identifikasi, mengatur risiko, serta membentuk strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia. Strategi yang dapat digunakan antara lain mentransfer risiko pada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek buruk dari risiko, dan menerima sebagian maupun seluruh konsekuensi dari risiko tertentu.
Adapun dalam manajemen risiko tujuan yang hendak dicapai adalah:
·         Identifikasi terhadap risiko;
·         Evaluasi (analisa) risiko dan (estimasi) pengaruhnya terhadap proyek;
·         Mengembangkan responsi terhadap risiko;
·         Mengontrol responsi risiko
                                                              

2.2.1    Identifikasi risiko

Identifikasi risiko terdiri atas pengawasan dan penentuan risiko apa saja yang dapat mempengaruhi proyek serta mendokumentasikan setiap dari risiko tersebut. Identifikasi tidak hanya dilakukan sekali, namun harus dilakukan sepanjang perjalanan proyek dari awal sampai akhir.
Faktor internal di dalam serta eksternal di luar proyek harus diidentifikasi. Faktor internal antara lain penugasan anggota tim kerja, perhitungan biaya dan waktu, serta support dan pengaruh dari tim manajemen. Faktor eksternal antara lain melibatkan kebijaksanaan pemerintah, bencana alam, dan hal-hal lain di luar kontrol atau pengaruh tim proyek. Identifikasi terhadap risiko harus melibatkan pengaruh baik maupun pengaruh buruk dari pengaruh faktor-faktor penentu risiko.




Dari gambar di atas dapat dilihat input bagi identifikasi risiko adalah:
a.       Diskripsi produk
o   Produk yang berbasis pada teknologi yang telah dibuktikan kebenarannya memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan dengan produk yang menuntut inovasi dan penemuan.

b.      Rencana proyek
o   Work breakdown structure: pendekatan pada deliverables setiap unit kerja secara detail. Dengan cara ini identifikasi terhadap risiko bisa sampai ke level yang sangat detail;
o   Estimasi biaya dan waktu: estimasi yang terlalu kasar dan terburu-buru dapat meningkatkan risiko proyek.
o   Penempatan SDM: setiap pekerjaan yang spesifik dan hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu meningkatkan risiko proyek, apabila orang tersebut berhalangan untuk hadir;
o   Perekrutan dan sub-kontraktor: pengaruh ekonomi dan kebijakan politik di sekitar proyek dapat menyebabkan fluktuasi nilai kontrak proyek.

c.       Informasi historis. hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu, dan berkaitan dengan proyek dapat dilihat dari:
o   File-file proyek sejenis dari perusahaan;
o   Database komersial, contohnya: Internet knowledge-bases;
o   Ilmu dan pengalaman dari tim kerja, dikenal juga dengan sebutan: tacit knowledge.
Untuk teknik yang digunakan dalam proses identifikasi risiko adalah:
·         Checklist: dari informasi (riset, dll) yang diperoleh dapat dibuat checklist yang mendata sumber-sumber risiko;
·         Flowcharting: dapat digunakan untuk menggambarkan penyebab dan efek dari risiko yang ada;
·         Wawancara: data-data yang tersimpan dari hasil wawancara proyek-proyek terdahulu dapat digunakan sebagai referensi, dan juga masukan dari stakeholders merupakan sumber informasi yang berpengaruh untuk mengidentifikasi risiko.

Adapun hasil output dari pengidentifikasian risiko adalah:

o   Daftar sumber-sumber risiko
o   Yang seringkali menjadi sumber risiko proyek antara lain: perubahan requirements, kesalahan design, pendefinisian peran kerja yang lemah, kesalahan estimasi, dan tim kerja yang kurang mapan.
o   Pada umumnya penjelasan mengenai sumber-sumber risiko ini disertai pula dengan: perhitungan kemungkinan terjadinya risiko tersebut, kemungkinan akibat dari risiko tersebut, kemungkinan kapan terjadinya, pengantisipasian tindakan terhadap risiko tersebut.
o   Kejadian yang berpotensi menjadi risiko: biasanya merupakan kejadian-kejadian luar biasa yang jarang terjadi. Contohnya bencana alam, perkembangan teknologi baru yang tiba-tiba.
o   Tanda-tanda datangnya risiko (risk symptoms), sering juga disebut triggers, sebab-sebab yang mengakibatkan munculnya bencana pada saat ini.Contohnya biaya yang mengembang pada awal proyek disebabkan oleh estimasi yang terburu-buru dan tidak akurat.
 o   Input pada proses-proses lainnya
        identifikasi risiko mungkin saja menyebabkan diperlukannya pelaksanaan suatu aktivitas di area lain. Contohnya: bila identifikasi risiko memperkirakan bahwa harga barang kebutuhan utama proyek akan naik, maka ada baiknya pada penjadwalan, pembelian barang utama tersebut dilakukan di awal proyek.

2.2.2    Kuantifikasi dan Evaluasi risiko




Kuantifikasi risiko meliputi pengevaluasian serta interaksi antara risiko dan akibatnya.
Input:
o   Toleransi dari stakeholders dan sponsor: setiap organisasi memiliki toleransi yang berbeda-beda terhadap risiko. Ada yang hanya 10% dari modal, tapi ada juga yang berani hingga 40% dari modal proyek, asalkan proyek selesai tepat waktu.
o   Sumber risiko (dibahas di atas);
o   Kejadian yang berpotensi menjadi risiko(dibahas di atas);
o   Estimasi waktu dan biaya (akan dibahas pada Manajemen waktu dan biaya);

Teknik:
o   Perkiraan nilai moneter: bagaimana efek sebuah risiko yang telah dievaluasi nilainya? Mungkin ada yang risiko yang kemungkinannya kecil, tapi nilai risikonya dapat membuat proyek berhenti. Ada pula risiko yang kemungkinannya besar, tetapi efeknya kecil terhadap jalannya proyek.
o   Perhitungan statistik: menghitung jangkauan (range) perhitungan minimum dan maksimum untuk biaya dan penjadwalan kerja proyek.
o   Simulasi model: dengan bantuan model yang disimulasikan dapat diketahui estimasi yang lebih tepat, contoh: penggunaan model statistik Monte Carlo untuk menghitung estimasi durasi proyek
o   Decision trees: diagram yang memberikan alur kemungkinan dan interaksi antara keputusan serta akibatnya.
o   Penilaian ahli: penilaian ahli dapat digunakan sebagai masukan tambahan setelah penggunaan teknik-teknik di atas.

Output:
Setelah dianalisis, manajer proyek harus mampu memutuskan berbuat apa terhadap risiko yang mungkin ada. Menerimanya, membuat rencana lanjutan atau mencari alternatif lain yang tidak terpengaruh risiko.




BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan


Dari paparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa manajemen risiko merupakan kegiatan yang memang harus dilakukan karena dengan adanya manajemen risiko kita dapat menganalisa hal-hal yang mungkin terjadi nanti dalam proyek kita. Dengan menganalisa risiko yang mungkin terjadi dapat mengurangi kemungkinan gagal dalam proses pengerjaan proyek tersebut sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sebelumnya.